Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

KPK Panggil Pengusaha Pengiriman Peti Kemas

Kasus Suap Importir Daging Basuki Hariman

X-Files  SELASA, 09 MEI 2017 , 10:17:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

KPK Panggil Pengusaha Pengiriman Peti Kemas

Basuki Hariman/Net

RMOL. Johnny Abbas, pengusaha pengiriman peti kemas tak memenuhi panggilan KPK. Bos PT Prolink Logistics Indonesia hendak diperiksa sebagai saksi kasus penyuapan terhadap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar.
 
Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah membenarkan, penyidik mengagendakan pe­meriksaan terhadap saksi Johnny Abbas. Bos PT Prolink Logistics Indonesia (PLI) tersebut ren­cananya dimintai kesaksian un­tuk tersangka Basuki Hariman.

Diketahui, Basuki Hariman adalah tersangka kasus penyua­pan terhadap Patrialis terkait uji materi di MK. Hingga kemarin petang, saksi Johnny Abbas tidak kelihatan nongol di Gedung KPK. Febri mengatakan, "Saksi tidak hadir memenuhi panggilan penyidik," kata Febri.

Ketakhadiran saksi yang per­nah terjerat kasus penyelundu­pan 30 kontainer BlackBerry dan minuman keras dari Singapura lewat jalur laut itu, juga tak dii­kuti alasan atau surat keterangan. "Tidak hadir tanpa keterangan," ujar Febri.

Diminta menjelaskan, apakah saksi dijadwalkan menjalani pemeriksaan seputar teknis dan prosedur perizinan impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Febri belum mau membeber­kannya. Dia juga tak bersedia apa keterkaitan Johnny Abbas dengan perkara yang membuat Basuki Hariman terjerat perkara suap. "Informasi soal pemer­iksaan saksi ini masih ada di penyidik. Coba nanti ditanyakan begitu pemeriksaannya sudah dilakukan," sergahnya.

Lebih jauh, Febri mengaku belum mengetahui apakah saksi Johnny Abbas memiliki kaitan dengan sejumlah saksi dari kalangan pejabat Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai yang pernah diperiksa KPK.

Dipastikan, ketakhadiran saksi bakal ditindaklanjuti penyidik dengan pemanggilan ulang. "Penyidik akan kembali me­layangkan panggilan terhadap saksi," kata Febri.

Jika saksi tak kunjung kooper­atif mendatangi KPK, tegas dia, penyidik pun tak segan melaku­kan panggilan paksa.

Bekas aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) ini tak mau memberikan keterangan spesifik, apakah pemeriksaan saksi Johnny Abbas kali ini masuk dalam kategori pengem­bangan perkara yang pernah menjerat dia.

Ditanya ikhwal kemiripan konstruksi perkara perizinan ekspor-impor antara yang per­nah melibatkan saksi dengan tersangka Basuki Hariman kali ini, Febri juga enggan merinci hal tersebut. 'Tunggu informasi dari penyidik, nanti akan disam­paikan,' tuturnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan empat orang seba­gai tersangka. Keempat tersang­ka itu antara lain, bekas hakim MK Patrialis Akbar, Kamaludin sebagai perantara suap, dan pengusaha impor daging, Basuki Hariman beserta sekretarisnya, NG Fenny.

Atas perbuatannya, Patrialis dan Kamaludin disangka me­langgar pasal 12c atau pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) seperti diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Basuki dan Fenny yang diduga sebagai pihak pem­beri suap, KPK menjerat mereka dengan pasal 6 ayat (1) huruf a atau pasal 13 UU Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Kilas Balik
Usai Diperiksa, Direktur Penyidikan Bea Cukai Tutupi Wajah Pakai Jas

KPK kembali memanggil para pejabat Bea Cukai. Mereka diperiksa soal penyimpangan impor daging yang dilakukan Basuki Hariman.

Kali ini yang dipang­gil Direktur Penyidikan dan Penindakan Direktorat Jenderal Bea Cukai, Harry Mulya. "Saksi HM hadir memenuhi panggi­lan," kata Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah.

Harry Mulya tiba di gedung KPK pada pukul 10.00 WIB. Dia datang bersama dua bawa­hannya, yakni Kepala Bidang Penindakan Imron dan Kepala Sub Direktorat Intelijen TH Bonar Lumban Raja.

Imron dan Bonar juga dipang­gil untuk diperiksa dalam perka­ra suap yang dilakukan Basuki Hariman, bos CV Sumber Laut Perkasa.

Pemeriksaan Harry Mulya memakan waktu panjang, seki­tar 8 jam. Ia baru keluar dari gedung KPK pada petang hari. Menuruni anak tangga di teras gedung KPK, awalnya Harry Mulya melontarkan senyum.

Namun ia tak bersedia mem­berikan komentar mengenai pemeriksaan dirinya. Begitu ada rekannya yang meng­hampiri, Harry mempercepat langkah meninggalkan KPK. Menggunakan jas hitam, Harry Mulya menutupi mulut dan sebagian wajahnya.Sehari sebe­lumnya, KPK juga memanggil tiga pejabat Kantor Bea Cukai Tanjung Priok. Yakni Kepala Seksi Intelijen I Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Bagus Endro Wibowo; Kepala Seksi Penyidikan I Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Aris Murdyanto; dan Kepala Seksi Penindakan I Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Wawan Dwi Hermawan.

Dari para pejabat Bea Cukai, KPK ingin mengorek kasus Basuki dalam impor daging. "Tiga saksi itu diduga menge­tahui prosedur impor yang di­lakukan perusahaan tersangka BHR, termasuk di dalamnya catatan-catatan mengenai dug­aan penyimpangan yang pernah terjadi," ungkap Febri.

Untuk mengumpulkan bukti mengenai dugaan penyimpan­gan dalam impor daging, KPK menggeledah kantor pusat Ditjen Bea Cukai.

Febri mengakui KPK tengah mengembangkan penyidikan terhadap Basuki, termasuk du­gaan adanya suap dalam proses impor daging. "Penyidik sedang mengembangkannya. Tidak lama lagi pasti akan diketahui hasilnya," katanya.

Untuk diketahui Basuki ada­lah "pemain lama" di bidang impor daging. KPKmengetahui Basuki memiliki 20 perusahaan, baik atas nama dirinya maupun orang lainya.

Di antaranya PT Impexindo Pratama, CV Sumber Laut Perkasa, PT Aman Abadi Nusa Makmur, dan PT Cahaya Sakti Utama. Semuanya punya alamat yang sama di Kompleks Perkantoran Danau Sunter, Jakarta Utara.

Sebagai pemain besar im­por daging Basuki mempunyai gudang penyimpanan (cold storage) yang bertebaran. Ada yang di Kompleks Pergudangan Kosambi Permai, Jakarta Barat. Satu lagi di tepi Jalan Raya Jonggol, Cileungsi.

Basuki pernah diperiksa terkait kasus suap impor dag­ing sapi 2013 yang melibat­kan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat itu, Luthfi Hasan Ishaaq. Namun dia lolos dari jerat hukum.

Basuki akhirnya dibekuk KPK karena menyuap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar sebesar 20 ribu dolar Amerika dan 200 ribu dolar Singapura. Jumlah itu set­ara Rp 2,15 miliar.

Basuki menyuap Patrialis untuk mempengaruhi putu­san uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 ten­tang Peternakan dan Kesehatan Hewan. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Prabowo Puji Mahasiswa UBK

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

, 18 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

, 18 AGUSTUS 2017 , 19:00:00

Foto Bersama Presiden

Foto Bersama Presiden

, 17 AGUSTUS 2017 , 02:21:00

HUT RI DI Pyongyang

HUT RI DI Pyongyang

, 17 AGUSTUS 2017 , 10:57:00

Cium Merah Putih Dengan Khidmat

Cium Merah Putih Dengan Khidmat

, 17 AGUSTUS 2017 , 22:30:00