Verified

Apa Salah Bunga?

Suara Publik  SELASA, 02 MEI 2017 , 09:15:00 WIB

SELAIN simbol cinta, bunga juga simbol perlawanan terhadap penindasan, tidak heran jika Wiji Thukul aktivis buruh dan seniman yang diculik di era Orde Baru dan tidak ditemukan hingga hari ini, membuat puisi berjudul Bunga dan Tembok.

Bunga juga menjadi simbol pembangkangan generasi muda yang cinta damai dalam menolak invasi Amerika ke Vietnam di era 60-an.

Bunga bagi Bung Karno, Proklamator yang meninggal dalam status tahanan di era Orde Baru, menyimbolkan kekayaan dan keragaman pemikiran, budaya, keyakinan yang berbeda beda tetapi tetap dalam satu taman sari bernama Negara Indonesia.

Bunga di tahun 1993 dan 1994 menjadi simbol solidaritas untuk Marsinah, aktivis buruh yang mati di bunuh di era Orde Baru dengan tusukan kayu di vagina tembus sampai perut.

Bunga di tahun 1996 adalah dukungan pada Megawati dan PDI yang di represi Orde Baru yang di simbolkan dalam aksi sejuta mawar yang dibagikan di jalan jalan oleh aktivis Mahasiswa.

Bagaimana Bunga hari ini?

Hari Buruh itu cuma 1 hari dalam 1 tahun. Karena hanya 1 hari dalam 1 tahun maka biasanya di Hari Buruh, puluhan ribu buruh akan turun ke jalan untuk memperjuangkan aspirasi buruh seperti maraknya union busting, upah yang tidak naik, hak cuti, jam kerja, kekerasan pengusaha, upah lembur, cabut peraturan ini itu yang tidak berpihak pada buruh dan atau hal-hal lain yang memang terkait dengan hak-hak buruh.

Di hari istimewa kaum buruh ini, buruh turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak buruh tapi yang terjadi ada satu organisasi buruh justru malah ramai-ramai membakar jutaan kuntum bunga. Aneh, ada apa?

Penjelasan orator yang mengkomandoi aksi bakar bunga itu kira kira begini "Ahok tidak berpihak pada buruh karena tidak menaikkan upah buruh...." Orasi yang heroik, lantang dan full galak, tapi tetap tidak ada hubungannya dengan bunga karena bunga-bunga itu bukan Ahok yang beli, bukan ide Ahok, bukan Ahok yang minta. Lebih aneh lagi karena ternyata upah buruh di DKI Jakarta sejak 2012 hingga 2017 menurut data sudah empat kali naik.

Bunga untuk Ahok-Djarot dibeli oleh beragam rakyat, ada yang pengusaha, ibu rumah tangga, supir dan ojek, guru, dosen, dokter, artis, mahasiswa dan jangan salah, dari sekitar 4.200 papan bunga dengan jutaan kuntum itu ada juga yang dibeli dari kelompok buruh.

Saya tidak tahu detail siapa saja pengirim 4.200 papan bunga tapi saya tahu pasti bahwa salah satu yang tidak kirim bunga adalah Fadli Zon karena Fadli mantan anggota MPR hasil pemilu Orde Baru 1997 sudah antar bunga sendiri dari Indonesia ke London sejauh 11.700 Kilometer ke makam Karl Marx, sang pemikir Ideologi Komunis. Kalau di novel romantis seorang pemuda mengantar bunga sejauh itu pasti cintanya sudah sampai di ujung kepala.

Dari spanduk kelompok buruh itu akhirnya kita tahu bahwa kelompok buruh ini pendukung Anies dan Sandi dalam pilkada kemarin. Setelah tahu bahwa mereka adalah kelompok pendukung Anies - Sandi mungkin kita bisa maklum sambil mengelus dada dan bergumam "Oooh pantas"

Hmmm mungkin para pembakar bunga itu benci pada semua yang beraroma Ahok-Djarot. Tapi bukankah Pilkada sudah selesai, Anies-Sandi dikatakan sudah memenangkan Pilkada. Lalu kenapa bunga bunga masih dibakar? Atau jangan jangan membakar bunga bagi mereka justeru bagian dari seremoni perayaan kemenangan. Pendukung yang kaya konon berpesta di Leon Cafe sementara buruh pendukung Anies - Sandi cukup berpesta dengan bakar bunga di Balai Kota.

Kelompok pemenang ngamuk bakar bunga. Aneh, nalar kita tidak bisa berterima tapi itu Fakta. Hitler mungkin tersinggung karena sekejam kejamnya Hitler dia tidak pernah membakar bunga, karena bunga tak punya ideologi, bunga tak punya suku, bunga tak punya Agama, bunga tak ikut pilkada bahkan bunga tak boleh datang antri dan mencoblos di satu dari 13.000 TPS.

Akhir kata, sejarah pernah menulis bahwa jika seseorang merebut kekuasaan dengan senjata maka ia akan pertahankan kekuasaan itu juga dengan senjata, jika seseorang merebut kekuasaan dengan Isu SARA maka ia akan mempertahankan kekuasaan juga dengan isu SARA.

Lalu apa hubungannya dengan bunga? Mungkin karena bunga itu tidak punya Agama, Atheis..... Kafir !! Mungkin karena bunga tidak punya Etnis jadi dianggap plin plan dan berpotensi berkhianat. Mungkin karena bunga itu simbol cinta dan perlawanan dari pencinta kedamaian sehingga dianggap berbahaya bagi mereka yang tak lagi punya cinta dan gemar menabur spanduk kebencian.[***]


Adian Napitupulu

Sekjen PENA 98 dan
Anggota DPR RI FPDI Perjuangan
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Oentoek Padoeka Jang Moelja

Oentoek Padoeka Jang Moelja

, 22 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

, 21 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00