Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

Komisi VI Pertanyakan Nasib Penjaga Tol Pasca Penerapan E-Money

DPR RI / KAMIS, 12 OKTOBER 2017 , 16:26:00

Komisi VI Pertanyakan Nasib Penjaga Tol Pasca Penerapan E-Money
RMOL. Seiring dengan rencana penggunaan gardu tol otomastis seakan terjadi adanya sistem robotisasi. Hal itu menimbulkan keresahan di kalangan pekerja yang biasa bertugas di pintu tol tunai terkait dengan nasib mereka.
Demikian dikatakan anggota Komisi VI DPR RI Iskandar Dzulkarnain Syaichu dalam rapat dengar pendapat dengan Dirut PT Jasa Marga beserta jajaran dan unsur perbankan di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu kemarin (11/10).
 
"Dirut PT Jasa Marga menyebutkan, dalam waktu tiga sampai enam bulan ke depan posisi mereka masih aman. Lalu setelah lewat waktu enam bulan itu, saya ingin tahu bagaimana skema Jasa Marga terhadap mereka yang termasuk golongan kecil ini bila tidak di-PHK," kata Iskandar.
 
Dalam paparannya, dirut PT Jasa Marga sempat menjelaskan terkait nasib SDM yang selama ini melayani pembayaran tunai di gardu tol. Yang tadinya di setiap gardu tersebut ada tiga shift, kemudian menjadi non tunai atau e-money, Jasa Marga sudah menyiapkan program dan tidak melakukan PHK.
 
"Karena beberapa hal, yakni di gerbang-gerbang tersebut dengan adanya non tunai bukan berarti tidak ada petugas, apalagi di masa transisi ini. Di kantor pusat, kami sedang mengoptimalkan berbagai fungsi yang kaitannya adalah meningkatkan service. Kami akan menambah beberapa job-job baru di tempat-tempat yang akan kami ciptakan," ujarnya.             
 
Seluruh peralatan tol yang ada pada PT Jasa Marga dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) lain sudah seratus pesen bisa membaca uang elektronik, namun demikian penyerapannya atau utilisasi dari uang elektronik itu yang sangat rendah.
 
"Dalam waktu yang sangat pendek ini, untuk menargetkan seratus persen di tanggal 31 Oktober 2017, yang kami lakukan adalah mengubah posisi peralatan yang ada di gardu, yang selama ini manual. Kami mengubah posisi readernya sehingga yang tadinya di dalam dengan petugas yang menerima dan mengembalikan uang, dialihkan di luar. Sehingga mudah di-tapping oleh para pengguna jalan," jelasnya.
 
Posisi reader juga bisa bertingkat atas bawah, untuk kendaraan-kendaraan tidak hanya golongan satu, tetapi juga ruas-ruas yang dimasuki oleh kendaraan besar. Pihaknya juga harus memasang portal untuk gardu yang hanya menerima kendaraan-kendaraan yang termasuk golongan satu, dan juga harus memodifikasi aplikasi serta memasang automatic lamp barrier di depan gardu.
 
"Gardu yang dahulu sering disebut GTO sekarang ini kami menyebutnya GSO. Sejak awal September kami melakukan perubahan itu, dan saat ini Jasa Marga memiliki gardu kurang lebih 1.200. Sebelum gerakan ini di-launching, 40 persen dari jumlah gardu tersebut adalah gardu GTO. 60 persen yang merupakan gardu manual itulah yang setiap harinya harus kami rubah posisi peralatan, menambah portal, dan kami pasang palang otomatis. Sehingga setiap hari di masing-masing titik lokasi sudah mulai 100 persen non tunai," terang dirut PT Jasa Marga.
 
Hampir semua ruas sudah dengan lima bank yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN dan BCA dan prosesnya bertahap karena di beberapa ruas masih ada yang belum bisa mengakses komplit lima bank tersebut. Sosialisasi sudah dilakukan sejak jauh hari karena sebelum mengubah peralatan, juga terus melakukan sosialisasi di seluruh ruas tol. [wah/***] 


Komentar Pembaca
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)