Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

Iskan Qolba: Secara Fitrah Tidak Mungkin Ibu Menyiksa Anaknya

DPR RI / JUM'AT, 25 NOVEMBER 2016 , 06:38:00

Iskan Qolba: Secara Fitrah Tidak Mungkin Ibu Menyiksa Anaknya

Iskan Qolba Lubis/Net

RMOL. Pimpinan Komisi VIII DPR angkat bicara mengenai kasus meninggalnya almarhum balita Aditya Fadilah yang berusia empat tahun. Menurut keterangan dari Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Maruly Pardede, AF meninggal karena mengalami penyiksaan oleh ibu kandungnya sendiri berinisial S.
Atas dasar ini, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Iskan Qolba Lubis meminta penegakan hukum seadil-adilnya terhadap pelaku kekerasan hingga menyebabkan meninggalnya balita tersebut.

"Kami sangat prihatin dengan kejadian ini, karena secara fitrah tidak mungkin seorang ibu menyiksa anaknya. Ini berarti ada fenomena tekanan berat yang dialami orang tua saat ini," kata Iskan, Jumat (25/11).

Selain itu, Iskan menambahkan, secara global, kasus kekerasan pada anak dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Sehingga, Iskan menilai, kasus kematian Aditya ini dapat diibaratkan seperti fenomena gunung es.

"Dari tahun ke tahun kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dan seperti fenomena gunung es. Hal ini terjadi setidaknya karena paradigma mendidik anak kurang tepat," kata Legislator PKS dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara II ini.

Atas dasar ini, Iskan mendesak agar pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA), bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), harus bisa mengurangi kecenderungan meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak dengan mengantisipasi potensi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak.

"harus diingat, bahwa kekerasan terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orang lain, karena bisa juga dilakukan orang tua sendiri, seperti kurang harmonisnya rumah tangga," papar Iskan.

Menurut Iskan, ketidakharmonisan rumah tangga bisa menjadi sumber kekerasan terhadap anak, karena kemarahan bisa dilampiaskan kepada anak.

"Sehingga kekerasan terhadap anak bukan saja dilakukan masyarakat luar tetapi juga orang dalam sendiri yang seharusnya menjadi pelindung sang anak. Hal inilah yang juga harus diperhatikan oleh anak," tegas Iskan. [rus]

Komentar Pembaca
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)